JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Protes anti-pemerintah di Iran terus mengguncang negara itu. Rumah sakit di Teheran dan kota-kota besar dilaporkan kewalahan menampung korban luka, sementara pemerintah mengeluarkan peringatan keras kepada para demonstran.
Dikutip dari BBC, Seorang dokter di Rumah Sakit Mata Farabi, pusat spesialis mata utama Teheran, mengatakan fasilitasnya telah memasuki “mode krisis”. Semua operasi yang tidak darurat ditunda, staf tambahan dipanggil, dan layanan darurat kewalahan menangani korban. Sementara itu, seorang tenaga medis di Shiraz, kota di barat daya Iran, menyebut rumah sakit mereka kekurangan ahli bedah untuk menangani gelombang korban. Banyak pasien menderita luka tembak di kepala dan mata.
Protes anti-pemerintah ini telah berlangsung sejak 28 Desember, dengan laporan setidaknya 50 pengunjuk rasa tewas dan lebih dari 2.300 orang ditangkap. Data dari Iran Human Rights (IHRNGO) mencatat korban tewas termasuk sembilan anak-anak, sementara BBC Persian telah mengonfirmasi identitas 22 korban melalui keluarga mereka.
Situasi semakin memanas di tingkat internasional. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran, “jangan mulai menembak, karena kami juga akan menembak.” Iran membalas lewat surat ke Dewan Keamanan PBB, menuding AS memprovokasi protes menjadi aksi kekerasan dan vandalisme.
Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan mendalam, menekankan bahwa setiap orang memiliki hak untuk demonstrasi damai dan pemerintah harus melindunginya. Sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, menegaskan bahwa otoritas Iran wajib memastikan kebebasan berekspresi tanpa takut pembalasan.
Di tengah tekanan ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tetap bersikukuh. Dalam pidato televisi, ia menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan mundur menghadapi kelompok yang menentang pemerintah. “Kami tidak akan ragu menghadapi elemen destruktif,” tegas Khamenei.
Sementara itu, Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran dan tokoh oposisi yang kini berbasis di AS, memuji aksi demonstran sebagai “luar biasa” dan mendorong warga Iran untuk mengambil alih pusat-pusat kota dalam protes akhir pekan ini. Ia bahkan menyatakan sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke Iran.
Dengan situasi yang semakin memanas, Iran kini menghadapi krisis ganda: tekanan di jalanan dari warganya sendiri, dan sorotan internasional terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil. Rumah sakit yang kewalahan hanya menjadi salah satu gambaran nyata dari ketegangan yang terus meningkat.
Editor: Sukri
