MBG untuk Lansia Belum Jalan, Pemerintah Fokus Matangkan Konsep

3 Min Read
MBG untuk Lansia Belum Jalan, Pemerintah Fokus Matangkan Konsep.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyatakan bahwa rencana pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) masih berada pada tahap pematangan konsep. Pemerintah saat ini masih menyusun skema terbaik agar program tersebut dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, saat ditemui usai menghadiri pertemuan dengan Perhimpunan Jiwa Sehat di Kantor Kementerian Sosial Republik Indonesia, Jakarta, Jumat (27/2/2026). Ia menegaskan bahwa pelaksanaan program ini membutuhkan persiapan yang matang.

“Ya, itu baru mematangkan konsep, ya. Kita belum masuk tahap pelaksanaan karena masih banyak hal yang perlu disiapkan,” ujar Gus Ipul kepada wartawan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah tengah merancang sistem distribusi makanan melalui Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). Nantinya, makanan bergizi akan disalurkan oleh petugas Kemensos, kelompok masyarakat, serta tenaga pendamping atau caregiver.

“Direncanakan seperti itu, tapi kami masih matangkan dulu ya, sehingga nanti dapurnya lebih banyak dan bisa menjangkau lebih banyak lagi lansia,” katanya. Menurutnya, ketersediaan dapur produksi menjadi kunci utama keberhasilan program MBG.

Gus Ipul juga mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan jumlah penerima manfaat secara signifikan. Saat ini, layanan MBG baru menjangkau sekitar 100 ribu lansia dan 36 ribu penyandang disabilitas.

“Ke depan, harapan kami bisa antara 300 sampai 500 ribu penerima manfaat. Jadi, kita ingin cakupannya jauh lebih besar,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa target tersebut masih bersifat perencanaan.

Sebelumnya, Mensos telah berdiskusi dengan Kepala Badan Gizi Nasional terkait penguatan program MBG. Pertemuan tersebut membahas sinergi antar-lembaga dalam memastikan kualitas dan keberlanjutan layanan gizi bagi lansia.

Penetapan penerima manfaat, lanjut Gus Ipul, akan dilakukan melalui asesmen berbasis data dari Kemensos dan pemerintah daerah. Data tersebut kemudian diverifikasi oleh kepala daerah sebelum diserahkan kepada BGN sebagai dasar pelayanan.

“Semuanya harus berbasis data yang valid. Kami ingin program ini benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa transparansi dan akurasi data menjadi prioritas utama.

Adapun sasaran utama program ini adalah lansia berusia di atas 75 tahun yang tinggal sendirian serta penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan akses terhadap pemenuhan gizi harian. Kelompok ini dinilai paling rentan terhadap masalah kesehatan akibat kekurangan nutrisi.

Pengamat kebijakan sosial menilai rencana MBG bagi lansia merupakan langkah positif pemerintah dalam memperkuat perlindungan sosial. Namun, mereka mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada jumlah penerima, tetapi juga kualitas makanan dan ketepatan distribusi.

“Program ini sangat baik, tetapi harus diawasi dengan ketat agar tidak terjadi kebocoran anggaran dan penurunan kualitas layanan,” pungkasnya.

Share This Article