JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Panggung hiburan nasional mendadak bersinggungan dengan arena strategis negara. Vokalis band Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto, resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta.
Pelantikan tersebut menjadi sorotan publik karena Noe dikenal luas sebagai musisi dan pemikir budaya, bukan berlatar belakang militer atau birokrasi pertahanan. Namun pemerintah menilai keterlibatan figur lintas disiplin justru dibutuhkan dalam menghadapi tantangan pertahanan modern.
Noe Letto dipercaya mengemban posisi Tenaga Ahli Madya di lingkungan Dewan Pertahanan Nasional. Jabatan ini bukan simbolis, melainkan berperan aktif dalam memberikan kajian, analisis, serta rekomendasi strategis bagi kebijakan pertahanan negara.
“Beliau dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional dan akan memberikan dukungan pemikiran strategis sesuai tugas kelembagaan yang berlaku,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Humas Setjen Kementerian Pertahanan.
Pelantikan Noe merupakan bagian dari pengangkatan 12 tenaga ahli DPN yang berasal dari beragam latar belakang profesional. Mereka ditempatkan sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda, dengan fokus bidang seperti geopolitik, geoekonomi, geostrategi, dan ketahanan nasional.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa pemilihan tenaga ahli dilakukan berdasarkan kompetensi dan kebutuhan strategis lembaga. Pemerintah menilai ancaman pertahanan saat ini tidak lagi semata bersifat militer, tetapi juga mencakup aspek budaya, ideologi, dan dinamika global.
Masuknya Noe Letto ke struktur strategis negara memantik beragam respons publik. Sebagian melihatnya sebagai terobosan progresif, sementara lainnya menuntut pembuktian nyata atas kontribusi yang akan diberikan dalam kebijakan pertahanan nasional.
Dewan Pertahanan Nasional sendiri memiliki peran penting dalam membantu Presiden merumuskan arah kebijakan pertahanan negara. Lembaga ini bertugas membaca potensi ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk ancaman nonmiliter yang kian kompleks.
Pemerintah berharap latar belakang pemikiran kritis dan pengalaman intelektual Noe Letto dapat memperkaya perspektif kebijakan pertahanan. Pendekatan multidisipliner dinilai krusial agar strategi pertahanan lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Pelantikan ini menjadi penanda bahwa pertahanan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada kekuatan gagasan dan kecerdasan strategis untuk menjaga masa depan Indonesia.
Penulis: Adi
