JAKRTA, NOLESKABAR.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran yang dilancarkan dari pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara kawasan tidak akan dapat diterima dalam keadaan apa pun. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Peringatan itu disampaikan Pezeshkian saat melakukan pembicaraan telepon dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq pada Kamis (12/3/2026) sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran. Kedua pemimpin membahas perkembangan situasi regional yang semakin memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut laporan Siaran Republik Islam Iran, percakapan tersebut juga menyinggung dampak internasional dari operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik di kawasan.
Dalam pembicaraan tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap menghargai hubungan baik dengan negara-negara tetangganya. Namun, ia mengingatkan agar wilayah negara-negara tersebut tidak digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
“Setiap serangan yang diluncurkan dari pangkalan militer AS di wilayah negara-negara kawasan tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun,” tegas Pezeshkian.
Ia menambahkan bahwa penggunaan pangkalan militer asing di wilayah negara tetangga dapat memperburuk situasi keamanan regional dan berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik yang lebih luas.
Pezeshkian juga menyinggung serangan sebelumnya yang terjadi di Kota Minab, Iran bagian selatan. Ia mengatakan bahwa pada awal konflik yang disebutnya sebagai “perang brutal”, sebuah sekolah di kota tersebut diserang hingga menewaskan 168 siswa.
Selain itu, Pezeshkian turut mengomentari laporan mengenai insiden di Port of Salalah. Ia menegaskan bahwa operasi militer Iran hanya menargetkan lokasi yang secara langsung terlibat dalam serangan terhadap negaranya.
“Aksi yang dilakukan militer Iran hanya menargetkan lokasi yang secara langsung terlibat dalam serangan terhadap negara kami. Penyelidikan menyeluruh pasti akan dilakukan terkait insiden ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta lebih dari 150 siswi sekolah. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer Amerika Serikat.
