JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Harga emas global anjlok tajam pada penutupan perdagangan Jumat (30/1/2026) dan tekanan tersebut berlanjut hingga pembukaan pasar Sabtu (31/1/2026).
Pelemahan ini dipicu penguatan signifikan dolar Amerika Serikat setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Gubernur The Federal Reserve (The Fed) yang baru.
Di pasar internasional, harga emas spot tercatat tumbang hingga 10 persen pada perdagangan Jumat. Penguatan dolar AS membuat emas kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai, seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed ke depan.
Pada Sabtu siang (31/1/2026) pukul 13.00 WIB, emas spot diperdagangkan di level USD 4.893,20 per troy ounce, dengan pergerakan harian di kisaran USD 4.549–4.893 per ounce. Meski sempat mencoba rebound, tekanan dari dolar yang terus menguat membuat harga emas masih bergerak volatil.
Sentimen global tersebut langsung berdampak ke pasar domestik. Harga emas Antam pada Sabtu pagi tercatat ambruk Rp260.000, dari posisi sebelumnya di atas Rp3 juta per gram, menjadi Rp2.860.000 per gram.
Tak hanya harga jual, harga buyback emas Antam juga ikut tertekan tajam. Antam menetapkan harga beli kembali di level Rp2.654.000 per gram, turun Rp285.000 dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini membuat pelaku pasar ritel cenderung menahan transaksi sambil menunggu stabilisasi harga.
Untuk pecahan lain, emas Antam ukuran 5 gram dibanderol Rp14.075.000, sementara ukuran 10 gram dijual di level Rp28.095.000. Adapun emas batangan 100 gram dipatok Rp280.212.000, dan ukuran 1 kilogram mencapai Rp2,8 miliar.
Analis menilai, penunjukan Kevin Warsh—yang dikenal memiliki pandangan hawkish—memperkuat asumsi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil, sekaligus mendorong investor beralih ke dolar AS.
Tekanan terhadap harga emas di dalam negeri juga diperparah oleh nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.773 per dolar AS, sehingga fluktuasi global cepat tercermin pada harga emas rupiah.
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar menilai koreksi tajam ini berpotensi membuka peluang bagi investor jangka panjang. Jika ketidakpastian global kembali meningkat, emas diperkirakan masih akan menjadi instrumen lindung nilai yang diperhitungkan.
Untuk sementara, arah harga emas masih akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS dan sinyal lanjutan dari The Fed dalam beberapa pekan ke depan.
Editor: Sukri
