Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Dekati Rp 17.000 per Dolar AS: Pasar Waswas RDG BI dan Isu Independensi

3 Min Read
Nilai tukar rupiah tertekan di tengah gejolak pasar. Mata uang Garuda mendekati Rp17.000 per dolar AS, memicu kekhawatiran pelaku pasar menjelang RDG Bank Indonesia dan isu independensi kebijakan moneter.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor kelam. Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), mata uang Garuda ditutup di posisi Rp 16.978 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah tercatat sebesar 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan bahkan lebih terasa pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang melemah 46 poin atau 0,27 persen ke level Rp 16.981 per dolar AS.

Meski sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada paruh akhir perdagangan, rupiah tetap gagal keluar dari zona merah. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan terbatas tersebut terjadi seiring anjloknya indeks dolar AS, yang sempat memberi ruang napas bagi mata uang negara berkembang.

“Rupiah ditutup melemah tipis, membalikkan sebagian besar perlemahan awal, didukung penurunan tajam indeks dolar AS,” ujar Lukman, Selasa (20/1/2026).

Namun, sentimen positif global itu belum cukup kuat menahan tekanan dari dalam negeri. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, yang dinilai krusial dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

Isu Politik Bayangi Rupiah
Tekanan rupiah kian bertambah akibat isu pencalonan keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Wacana tersebut memicu kembali kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral, meski belum berdampak langsung pada kebijakan.

“Investor masih waswas mengantisipasi hasil RDG BI besok. Rupiah juga terbebani isu pencalonan tersebut yang memicu kekhawatiran independensi BI,” kata Lukman.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak terbatas dalam waktu dekat.

“Range pergerakan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 16.900–Rp 17.000 per dolar AS,” tambahnya.

Pemerintah: Fundamental Ekonomi Kuat
Di tengah pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh Rp 17.000, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta pelaku pasar, khususnya spekulator, agar tidak bersikap terlalu agresif.

Menurut Purbaya, pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional yang justru menunjukkan perbaikan signifikan. Ia menyoroti derasnya arus modal masuk serta kinerja pasar modal yang solid.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,41 pada Senin (19/1/2026).

“Untuk spekulator, jangan ambil posisi terlalu long. Fondasi ekonomi kita tidak terganggu dan justru terus membaik,” ujar Purbaya.

Ia mempertanyakan tekanan rupiah di tengah indikator ekonomi yang positif, mulai dari aktivitas ekonomi hingga pasokan devisa yang dinilai aman.

“Tidak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini. Dari sisi pasokan dolar AS, tidak ada kekurangan,” tegasnya.

Purbaya juga menekankan bahwa penguatan pasar modal merupakan cerminan kepercayaan investor, baik asing maupun domestik.

“Pasar modal tidak mungkin naik kalau tidak ada dana yang masuk,” katanya.

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia, dan pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi langsung.

“Silakan ditanyakan ke bank sentral. Ketika capital inflow besar tapi rupiah melemah, itu ranah otoritas moneter,” pungkasnya.

Share This Article