NOLESKABAR.COM– Pemerintah Somalia secara resmi membatalkan seluruh perjanjian kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA), termasuk kesepakatan pengelolaan pelabuhan serta kerja sama pertahanan dan keamanan. Keputusan tersebut diambil setelah Somalia menilai UEA telah melakukan tindakan yang dinilai mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah negara.
Berdasarkan laporan Reuters, Senin (12/1), Dewan Menteri Somalia menyatakan pembatalan itu didasarkan pada laporan kredibel dan bukti kuat terkait aktivitas yang dianggap bermusuhan terhadap negara. Pemerintah menegaskan, keputusan tersebut berlaku untuk seluruh bentuk kerja sama strategis antara Somalia dan UEA.
“Keputusan ini didasarkan pada laporan yang dapat dipercaya dan bukti kuat mengenai tindakan yang merongrong kedaulatan nasional, persatuan wilayah, serta kemerdekaan politik Somalia,” demikian pernyataan resmi Dewan Menteri Somalia, dikutip Selasa, (12/1/2026).
Pembatalan tersebut mencakup seluruh perjanjian dan kemitraan yang berkaitan dengan Pelabuhan Berbera, Bosaso, dan Kismayo, serta seluruh kerja sama bilateral di bidang pertahanan dan keamanan antara Somalia dan UEA.
Masih menurut laporan Reuters, hingga berita ini diturunkan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab belum memberikan tanggapan resmi atas keputusan pemerintah Somalia tersebut.
Ketegangan hubungan kedua negara meningkat setelah Somalia pekan lalu membuka penyelidikan resmi terkait dugaan keterlibatan UEA dalam membawa keluar seorang pemimpin separatis dari Yaman melalui wilayah Somalia. Tuduhan tersebut mencuat setelah koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyampaikan laporan mengenai insiden tersebut.
Pemerintah Somalia menegaskan, apabila dugaan itu terbukti benar, maka hal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan tidak dapat ditoleransi.
UEA selama beberapa tahun terakhir diketahui membangun hubungan ekonomi dan keamanan yang erat dengan Somaliland, wilayah Somalia yang memproklamasikan diri sebagai negara merdeka namun belum diakui secara internasional.
Salah satu proyek utama UEA di wilayah tersebut adalah investasi senilai 442 juta dolar AS oleh perusahaan logistik asal Dubai, DP World, untuk mengembangkan dan mengelola Pelabuhan Berbera. Namun, berdasarkan laporan Reuters, DP World menolak memberikan komentar terkait keputusan Somalia tersebut.
Situasi semakin kompleks setelah Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka pada Desember 2025. Sejumlah laporan media internasional menyebutkan langkah diplomatik itu difasilitasi oleh Abu Dhabi, yang dinilai turut memperuncing hubungan Somalia dan UEA.
Meski memutus kesepakatan strategis dengan UEA, pemerintah Somalia menegaskan tetap terbuka terhadap kerja sama internasional, selama dilakukan dengan prinsip penghormatan terhadap persatuan, kedaulatan, dan integritas wilayah Somalia.
Langkah Somalia ini diperkirakan akan berdampak terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi di kawasan Tanduk Afrika, terutama dalam pengelolaan jalur pelayaran strategis di Laut Merah dan Teluk Aden.
Editor: Sukri
