BANGKALAN, NOLESKABAR.COM- Sumur bor di Dusun Manakajah, Desa Penyaksagan, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, yang sempat jadi heboh karena mengeluarkan minyak bumi, kini resmi ditutup sementara.
Langkah ini diambil pemilik dan pemerintah setempat untuk menghindari risiko keselamatan warga yang memadati lokasi dengan jeriken di tangan.
Pemilik sumur, Aida, menjelaskan keputusan penutupan dilakukan karena situasi semakin tak terkendali. Warga yang datang mengambil minyak tanah dari sumur bor itu mencapai jumlah fantastis, jika dikumpulkan, setara empat tangki mobil BBM.
“Kami menutup sementara karena baunya sangat menyengat dan dikhawatirkan membahayakan warga. Ada warga yang minta untuk dijadikan minyak urut,” ujar Aida, Senin (12/1/2026).
Awalnya, sumur bor itu digali untuk mencari air bersih. Namun, pada hari ke-12, muncul cairan hitam menyerupai minyak bumi. Cairan itu sempat digunakan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari membakar sampah hingga dipercaya sebagai obat alternatif.
Melihat antusiasme warga yang luar biasa, pemerintah desa dan Muspika setempat langsung mendukung langkah penutupan. Terpal dipasang untuk menutupi sumur, sekaligus menandai bahwa lokasi ini belum aman untuk diakses publik.
“Penutupan ini demi keselamatan warga. Kami tidak ingin ada hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Aida.
Sementara itu, Wakil Bupati Bangkalan, Moh Fauzen Jakfar, menegaskan pemerintah daerah menunggu hasil penelitian tim ahli sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Hingga kini, lokasi sumur masih dalam pengawasan. Tim teknis dari Provinsi Jatim akan turun untuk penelitian lebih lanjut. Kita imbau masyarakat jangan mendekat atau mengambil cairan tersebut,” ujar Fauzen.
Pemkab Bangkalan juga telah mengirim surat resmi kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim dan SKK Migas, agar segera melakukan uji laboratorium untuk memastikan apakah cairan tersebut benar-benar minyak bumi atau jenis cairan lain.
Meski ditutup, sumur bor ini tetap menjadi magnet perhatian warga dan media, karena kejadian seperti ini jarang terjadi. Penutupan sementara dianggap langkah bijak untuk menjaga keselamatan sekaligus menunggu hasil penelitian resmi.
“Keselamatan warga tetap nomor satu. Sumur boleh mengeluarkan minyak, tapi nyawa dan keamanan warga lebih penting,” tegas Wakil Bupati Fauzen.
Penulis: Syah
