Dari Mendarat hingga Tewas Dikejar OTK: Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua Selatan

3 Min Read
Dari Mendarat hingga Tewas Dikejar OTK: Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua Selatan (Ilustrasi)

PAPUA SELATAN, NOLESKABAR.COM – Pesawat milik maskapai Smart Air mengalami insiden penembakan oleh orang tak dikenal (OTK) saat mendarat di Bandara Korowai, Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu (11/2/2026). Dalam peristiwa tersebut, pilot dan kopilot dilaporkan tewas setelah berusaha menyelamatkan diri ke dalam hutan.

Pesawat tersebut diketahui terbang dari Tanah Merah menuju Bandara Korowai dengan membawa 13 penumpang, termasuk pilot dan kopilot. Kapolres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana mengatakan pihaknya menerima laporan awal mengenai kejadian itu sekitar pukul 11.00 WIT.

“Awalnya kami menerima informasi pada pukul 11.00 WIT, kemudian pada pukul 13.17 WIT kami mendapat konfirmasi bahwa pilot dan kopilot telah meninggal dunia,” ujar Wisnu saat dikonfirmasi.
Menurut keterangan kepolisian, penembakan terjadi sesaat setelah pesawat mendarat. Dalam kondisi terancam, pilot dan kopilot berusaha melarikan diri ke area hutan di sekitar bandara untuk menyelamatkan diri.

“Begitu mendarat di Bandara Korowai, pilot dan kopilot langsung melarikan diri ke hutan karena situasi tidak aman,” jelas Wisnu. Namun, keduanya diduga dikejar oleh sekelompok OTK yang berada di sekitar lokasi.

Tak berselang lama setelah pengejaran tersebut, aparat menerima informasi bahwa kedua awak pesawat itu ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Hingga kini, motif dan identitas para pelaku masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

Pihak kepolisian bersama satuan tugas keamanan telah berkoordinasi untuk mengevakuasi jenazah korban. “Kami sudah berkoordinasi dengan Satgas Rajawali dan Ops Damai Cartenz untuk proses evakuasi. Fokus utama saat ini adalah membawa jenazah korban,” kata Wisnu.

Ia juga mengungkapkan bahwa proses evakuasi menghadapi berbagai kendala, terutama terkait akses transportasi dan kondisi geografis. “Karena keterbatasan moda transportasi dan jarak tempuh yang sulit, evakuasi harus direncanakan dengan sangat matang,” tambahnya.

Sementara itu, Kabiro Humas dan Data Kemenko Polkam, Brigjen TNI Inf Honi Havana, menyatakan pihaknya telah menerima laporan awal terkait insiden tersebut. “Kami masih menunggu laporan lengkap dari satuan kewilayahan di lapangan,” ujarnya. Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Edison Isir juga menegaskan bahwa Polda Papua dan Ops Damai Cartenz 2026 terus berkoordinasi untuk menjangkau lokasi dan menangani kasus ini secara serius.

Share This Article