TEHERAN, NOLESKABAR.COM- Langit Teheran berubah menjadi kobaran api. Dalam operasi militer yang disebut sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan, militer Israel mengklaim telah menghancurkan kompleks kepemimpinan Iran termasuk kantor presiden dan gedung Dewan Keamanan Nasional Tertinggi—di jantung ibu kota.
Pernyataan resmi yang disampaikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut serangan udara dilakukan secara intensif dengan menjatuhkan amunisi dalam jumlah besar. Targetnya bukan sekadar simbol, melainkan infrastruktur strategis yang dinilai menjadi pusat kendali rezim.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Kompleks yang diserang disebut-sebut memiliki keterkaitan erat dengan pusat aktivitas kepemimpinan sebelumnya.
Situasi kian memanas ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Ia menegaskan bahwa Washington siap menghadapi konflik berkepanjangan, bahkan jika harus berjalan lebih dari sebulan.
Pernyataan tersebut memperjelas satu hal: ini bukan serangan simbolik. Ini pesan terbuka.
Ketika fasilitas militer, pusat pelatihan, dan gedung-gedung strategis Iran dihantam bertubi-tubi, dunia menahan napas. Timur Tengah kembali berada di titik paling genting. Setiap ledakan di Teheran kini bukan sekadar dentuman, melainkan tanda bahwa konfrontasi telah naik kelas dari bayang-bayang menjadi perang terbuka.
Iran belum menunjukkan seluruh kartu balasannya. Namun dengan pusat kekuasaan yang diguncang dan kepemimpinan tertinggi yang telah tumbang, tekanan untuk membalas hampir tak terelakkan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perang akan meluas, melainkan seberapa jauh api ini akan menyebar dan siapa lagi yang akan terseret ke dalam pusarannya.
Penulis:NL
