JAKARTA,NOLESKABAR.COM-Harga minyak dunia merosot tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan menunda rencana serangan lanjutan terhadap fasilitas energi Iran.
Keputusan tersebut langsung meredakan ketegangan di pasar global yang sebelumnya dipicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (24/3), Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 10 persen ke kisaran US$99 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga ikut tertekan hingga berada di level sekitar US$88 per barel.
Penurunan ini menjadi salah satu koreksi paling signifikan dalam waktu singkat, mencerminkan kuatnya pengaruh isu geopolitik terhadap harga energi.
Tak hanya minyak mentah, harga bahan bakar turunan seperti diesel dan bensin juga ikut melemah. Meski demikian, secara keseluruhan harga energi masih berada di level tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sentimen positif juga merambah pasar keuangan. Indeks saham utama di Amerika Serikat menguat, menandakan meningkatnya kepercayaan investor setelah muncul sinyal meredanya ketegangan.
Sebaliknya, aset lindung nilai seperti emas justru terkoreksi, seiring berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap konflik berskala besar.
Meski demikian, ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Aktivitas militer di kawasan masih berlangsung, sementara Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap potensi eskalasi lanjutan.
Perhatian juga tertuju pada jalur distribusi energi global, terutama Selat Hormuz yang menjadi titik krusial pergerakan pasokan minyak dunia.
Gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung pada harga energi global.
Di sisi lain, dampak konflik masih terasa di tingkat konsumen. Harga bahan bakar di Amerika Serikat terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir dan mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Meski harga minyak mentah mulai menurun, penyesuaian harga di tingkat konsumen diperkirakan tidak akan terjadi secara cepat.
Pasar kini menunggu perkembangan lanjutan dari kebijakan Washington serta dinamika konflik di Timur Tengah yang akan menentukan arah harga minyak ke depan.
Penulis: Adi
