BANGKALAN, NOLESKABAR- Hujan belum lama reda, Kecamatan Blega kembali kebanjiran. Seperti rutinitas tahunan, air datang tanpa aba-aba dan langsung menguasai Jalan Raya Blega, terutama di depan pasar. Tinggi genangan mencapai betis orang dewasa, cukup bikin pengendara mikir dua kali.
Bagi warga sekitar, banjir ini bukan lagi kabar mengejutkan. Namun bagi pengendara yang baru melintas, genangan air berubah jadi ujian mental. Antara lanjut jalan, putar balik, atau pasrah.
Motor-motor yang biasanya melaju gesit, kali ini banyak yang memilih menyerah terhormat. Alih-alih dipaksa menerjang, kendaraan roda dua justru digendong menggunakan gledek agar mesin tetap aman.
“Kalau dipaksa jalan, pasti mogok. Mending diangkut saja,” ujar Samsul, warga setempat, Sabtu, 10 Januari 2026.
Sementara itu, sejumlah mobil nekat menerobos genangan. Hasilnya bisa ditebak, banyak yang mogok di tengah jalan. Sopir dan penumpang pun turun sambil menggulung celana dan mengangkat sepatu.
“Airnya dalam, nggak kelihatan lubangnya. Mobil saya langsung mati,” kata Hadi, salah satu pengendara.

Berbagai sumber menyebut, banjir tahunan ini tak hanya merendam badan jalan, tetapi juga mengenangi permukiman warga di sekitar Pasar Blega. Air bahkan masuk ke halaman rumah dan gang-gang kecil.
“Kalau hujan deras, air pasti masuk ke rumah. Sudah biasa tiap tahun,” keluh Nurhayati, warga sekitar.
Di lokasi kejadian, polisi lalu lintas tampak berjaga mengatur arus kendaraan. Petugas juga mengimbau pengendara tidak memaksakan diri menyeberang genangan demi keselamatan.
“Kami imbau pengendara jangan nekat kalau air sudah tinggi. Lebih baik putar balik atau tunggu surut,” ujar seorang petugas lalu lintas di lokasi.
Warga menyebut kondisi banjir di kawasan tersebut memang langganan setiap musim hujan. Luapan air sungai dan saluran drainase yang tak mampu menampung debit air diduga menjadi penyebab utama genangan cepat terbentuk.
Hingga siang hari, air belum sepenuhnya surut. Aktivitas pasar tetap berjalan, meski warga beradaptasi dengan gaya khas musim hujan: sandal jepit, celana digulung, dan kesabaran ekstra.
Penulis: Syah
