Cahaya yang Tak Pernah Padam: Tradisi Khotmil Qur’an Pemuda dan masyarakat Daleman Dusun Tengginah Zona Utara

3 Min Read
Cahaya yang Tak Pernah Padam: Tradisi Khotmil Qur’an Pemuda dan masyarakat Daleman Dusun Tengginah Zona Utara

BANGKALAN, NOLESKABAR.COM – Di tengah arus kehidupan yang kian cepat dan penuh tuntutan, para pemuda perantauan bersama masyarakat Desa Daleman, Dusun Tengginah Zona Utara, tetap teguh menjaga sebuah tradisi yang sarat makna dan nilai spiritual.

Tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan yang dilaksanakan berulang, melainkan wujud nyata dari ikhtiar bersama dalam merawat kedekatan dengan Al-Qur’an di tengah padatnya aktivitas kehidupan.

Setiap bulan Ramadhan, ketika lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema dalam kegiatan tadarus malam hari hingga mencapai khatam, momen tersebut tidak dibiarkan berlalu tanpa makna.

Para pemuda perantauan dengan penuh kesadaran kembali pulang, menyatu dengan masyarakat, menghadirkan kebersamaan dalam sebuah Tasyakuran Khotmil Qur’an yang dirangkai dengan buka puasa bersama.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, terukir kebahagiaan yang sederhana namun menyentuh hati, menghadirkan kedamaian yang sulit tergantikan.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual dan sosial. Silaturahmi terjalin semakin erat, mempertemukan generasi muda dengan masyarakat dalam satu ikatan keimanan yang kokoh.

Momentum ini menjadi pengingat bersama bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dikhatamkan, tetapi juga untuk diresapi dan diamalkan dalam setiap langkah kehidupan.

Tasyakuran Khotmil Qur’an ini juga membawa dampak yang begitu besar, khususnya bagi para pemuda. Di tengah derasnya arus modernitas, kesibukan, dan berbagai tuntutan hidup, tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Qur’an sering kali terpinggirkan.

Namun melalui kegiatan ini, kesadaran perlahan tumbuh kembali. Rasa cinta terhadap Al-Qur’an mulai menguat, menghadirkan kedekatan emosional yang menghidupkan kembali semangat untuk membaca, memahami, dan mengamalkannya. Nilai-nilai Qur’ani pun kembali berakar, membentuk karakter generasi muda yang lebih baik dan berlandaskan keimanan.

Bagi Penulis, bahwa keberadaan tasyakuran sekaligus hataman bersama ini memiliki makna yang sangat mendalam. Penulis menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan Penulis, para pemuda dan masyarakat agar senantiasa kembali kepada Al-Qur’an. Dalam realitas kehidupan yang penuh kesibukan, Al-Qur’an kerap kali terlupakan dan jarang disentuh. Oleh sebab itu, melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh kembali kesadaran kolektif untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, yang tidak hanya hadir di bulan Ramadhan, tetapi terus membersamai setiap langkah kehidupan.

Pada akhirnya, tradisi ini bukan hanya tentang selesainya bacaan atau khatamnya Al-Qur’an, melainkan tentang bagaimana Al-Qur’an tetap hidup di dalam hati setiap insan. Ia menjadi cahaya yang menerangi jalan, penuntun dalam mengambil keputusan, serta penguat di tengah berbagai ujian kehidupan. Dengan terus dijaganya tradisi ini, harapannya generasi muda Desa Daleman akan tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam spiritualitas dan akhlaknya.

Penulis; Mimin

Share This Article