Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Ungkap Lonjakan Pasien RSJ Akibat Kecanduan Game dan Judol

2 Min Read
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Ungkap Lonjakan Pasien RSJ Akibat Kecanduan Game dan Judol.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkap adanya tren peningkatan pasien rumah sakit jiwa (RSJ) di berbagai daerah akibat kecanduan game online dan judi online (judol). Fenomena ini dinilai sebagai tantangan serius dalam dunia kesehatan mental nasional.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut saat ini terdapat sekitar 54 rumah sakit jiwa di seluruh Indonesia yang turut menangani kasus adiksi digital.

Dalam keterangannya di kawasan Sarinah, Jakarta, Imran menjelaskan bahwa sebagian besar RSJ kini menghadapi lonjakan pasien yang mengalami ketergantungan terhadap game dan judol.

Menurut Imran, jenis kecanduan yang ditangani tidak hanya berkaitan dengan internet secara umum, tetapi juga perjudian daring dan permainan digital yang berlebihan hingga mengganggu kesehatan mental.

“Rumah sakit jiwa di berbagai daerah melaporkan peningkatan pasien. Bukan hanya di Jawa Timur, tetapi hampir di semua wilayah,” ujar Imran, menegaskan bahwa persoalan ini sudah bersifat nasional.

Ia mencontohkan kondisi di Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, yang mengalami lonjakan pasien rawat inap hingga melebihi kapasitas. Beberapa pasien bahkan harus menunggu antrean untuk mendapatkan perawatan.

Selain itu, peningkatan serupa juga terjadi di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi dan Rumah Sakit Jiwa Grogol, yang menjadi rujukan utama penanganan gangguan kesehatan jiwa di wilayah Jawa.

Meski tren kenaikan terlihat jelas, Imran mengakui bahwa data nasional terkait adiksi game dan judol masih dalam tahap verifikasi. Sistem pencatatan yang belum merata menjadi kendala dalam memetakan kondisi secara akurat.

“Pelaporan kasus adiksi ini masih belum bagus dan belum seragam. Tapi dari laporan yang masuk, trennya memang meningkat, terutama di kota-kota besar,” ungkap Imran, menyoroti perlunya perbaikan sistem data.

Pemerintah pun mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa, peningkatan literasi digital, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat untuk mencegah kecanduan sejak dini. Dengan langkah terpadu, diharapkan lonjakan pasien akibat game dan judol dapat ditekan demi menjaga kualitas kesehatan mental masyarakat Indonesia.

Share This Article