China Minta Investigasi Menyeluruh Usai Penyusup Masuk Kedutaan di Tokyo

2 Min Read
China Minta Investigasi Menyeluruh Usai Penyusup Masuk Kedutaan di Tokyo (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Pemerintah China mendesak Jepang untuk segera melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden penyusupan ke Kedutaan Besar China di Tokyo yang terjadi pada Rabu (25/3/2026).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan bahwa Beijing menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, khususnya Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik.

“China meminta pihak Jepang untuk segera menyelidiki insiden ini secara menyeluruh, menindak pelaku sesuai hukum, serta memberikan penjelasan lengkap,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.

Insiden bermula ketika seorang pria menerobos masuk ke kompleks Kedutaan Besar China yang berada di Distrik Minato, Tokyo. Pelaku berhasil ditangkap oleh staf kedutaan di lokasi kejadian. Polisi juga menemukan sebuah pisau, meski tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut.

Media lokal Jepang melaporkan bahwa penyusup diduga merupakan anggota Pasukan Bela Diri Darat Jepang (SDF). Saat ini, pelaku telah diserahkan kepada Kepolisian Metropolitan Tokyo untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut atas dugaan pelanggaran hukum.

Pihak China mengaku “sangat terkejut” atas kejadian ini dan telah melayangkan protes keras kepada pemerintah Jepang. Beijing juga menilai insiden tersebut mengancam keselamatan personel diplomatik serta mencerminkan meningkatnya pengaruh kelompok sayap kanan dan neo-militerisme di Jepang.

Selain itu, China menyoroti kebijakan Jepang yang dianggap keliru dalam isu-isu sensitif, seperti sejarah dan Taiwan, serta menilai adanya kelemahan dalam pengawasan dan disiplin internal di tubuh SDF.

“Jepang harus menjamin keamanan kantor dan personel diplomatik China, serta mengatasi akar penyebab insiden semacam ini agar tidak terulang,” tegas Lin Jian.

Insiden ini terjadi di tengah hubungan China dan Jepang yang tengah memanas sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 terkait kemungkinan dukungan militer terhadap Taiwan jika terjadi konflik dengan China.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing, termasuk penangguhan impor produk laut Jepang, pembatasan perjalanan warga China ke Jepang, hingga penghentian kerja sama di berbagai sektor.

Peristiwa terbaru ini pun dikhawatirkan semakin memperkeruh hubungan bilateral kedua negara yang sudah berada dalam tensi tinggi.

Share This Article