Pasar Jodoh People’s Park Jadi Simbol Darurat Demografi China

3 Min Read
Pasar Jodoh People’s Park Jadi Simbol Darurat Demografi China (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM – Di sudut People’s Park, pemandangan tak biasa terjadi setiap akhir pekan.

Bukan anak muda yang sibuk mencari pasangan, melainkan para orang tua yang terang-terangan “mengiklankan” anak mereka demi mendapatkan jodoh.

Kertas-kertas berisi data pribadi ditempel di payung, tas, hingga digelar di tanah. Isinya detail lengkap: usia, pekerjaan, tinggi badan, penghasilan, sampai kepemilikan rumah.

Ironisnya, tidak sedikit anak yang bahkan tidak tahu biodatanya sedang dipajang di ruang publik.

Fenomena ini dikenal sebagai “marriage market” atau pasar jodoh. Tradisi ini sudah berlangsung hampir dua dekade dan kini kembali ramai karena situasi demografi China yang makin mengkhawatirkan.

Data terbaru menunjukkan sepanjang 2025 tercatat 6,76 juta pernikahan. Memang naik sekitar 10 persen dibanding 2024 yang menjadi titik terendah.

Namun jika ditarik ke belakang, angka itu masih jauh dari capaian 2015 yang menembus 12,25 juta pernikahan. Artinya, tren jangka panjangnya tetap menurun tajam.

Masalahnya tak berhenti di situ. Jumlah kelahiran juga terjun bebas, hanya 7,92 juta bayi sepanjang 2025. Negara dengan populasi terbesar di dunia itu kini menghadapi ancaman serius, penduduk menua lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sebagian pihak menilai, kondisi ini adalah efek panjang kebijakan satu anak yang diterapkan sejak 1979 hingga 2015. Generasi yang lahir setelah era itu tumbuh tanpa saudara kandung dan lebih independen.

Banyak yang memilih fokus karier, stabilitas finansial, atau bahkan memilih tidak menikah.

Seorang pria lansia yang rutin datang ke taman mengaku awalnya hanya ingin mencarikan pasangan untuk putrinya.

Kini ia justru menjadi semacam “relawan” tak resmi yang membantu orang tua lain memahami zona pencarian—mulai dari lajang muda, lajang usia matang, hingga lulusan luar negeri.

Pemerintah China sendiri tidak tinggal diam. Sejak Mei 2025, pasangan diperbolehkan mendaftarkan pernikahan di mana saja tanpa harus kembali ke kampung halaman.

Sejumlah daerah juga menawarkan cuti menikah hingga satu bulan dan insentif uang tunai.

Namun para akademisi mengingatkan, kebijakan administratif bukan solusi utama. Faktor yang membuat generasi muda enggan menikah jauh lebih kompleks, pengangguran, jam kerja panjang, harga rumah yang melambung, biaya hidup tinggi, hingga tekanan merawat orang tua.

Lonjakan angka pernikahan 2025 pun dinilai belum tentu menjadi titik balik. Bisa jadi hanya efek penundaan selama pandemi atau faktor kepercayaan kalender tradisional.

Sementara itu, di taman Shanghai, para orang tua tetap setia berdiri dengan lembaran biodata di tangan.

Di tengah krisis demografi, mereka seolah menjadi garda terdepan—berjuang bukan hanya untuk masa depan anak, tetapi juga masa depan negara.

Penulis : K_A

Share This Article