BOGOR, NOLESKABAR.COM – Derita hidup Sudrajat (50), seorang tukang es gabus di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, seolah datang bertubi-tubi. Setelah sempat dituduh menjual es gabus berbahan spons, kini fakta pahit lain terungkap: tiga dari lima anaknya terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Tak hanya soal pendidikan, kondisi rumah yang ia tempati bersama keluarganya pun memprihatinkan. Atap rumah Sudrajat jebol usai diguyur hujan deras yang turun tanpa henti beberapa hari terakhir. Rumah kecil di gang sempit itu tampak lapuk, nyaris tak layak huni.
“Rumahnya ambrol Selasa kemarin, karena memang sudah tua dan hujan terus,” ujar Ali Akbar, Ketua RW setempat, Selasa (27/1/2026).
Dari luar, rumah tersebut terlihat kusam dan rapuh. Sementara dari dalam, lembaran asbes yang menjadi atap sudah berlubang, membuat air hujan bebas masuk ke ruang keluarga.
Kondisi memprihatinkan itu mengetuk kepedulian warga sekitar. Melalui dana desa yang baru turun, warga bersama pengurus RW langsung membeli material bangunan untuk perbaikan darurat.
“Alhamdulillah, ada bantuan dari desa. Kami langsung belikan asbes supaya rumahnya tidak kehujanan lagi,” kata Ali.
Tak berhenti di situ, perhatian juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Bantuan sembako disalurkan melalui perangkat wilayah, di antaranya Sekretaris Kecamatan Rawa Panjang Elfi Nila Hartanti, Kepala Desa Mohammad Agus, serta perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Bogor.
Yang paling mengharukan, pemerintah memastikan masa depan pendidikan anak-anak Sudrajat tidak akan dibiarkan terkatung-katung. Dari pendataan sementara, hanya satu anak yang masih bersekolah, sementara tiga lainnya sudah berhenti sekolah.
“Kami akan bantu agar anak-anak ini bisa kembali mengenyam pendidikan, sesuai arahan Presiden,” tegas Elfi.
Ia menambahkan, kasus Sudrajat menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang luput dari perhatian, khususnya terkait akses pendidikan.
Gelombang bantuan terus berdatangan. Polres Bogor turut memberikan dukungan, bahkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), turun tangan langsung. Saat ini, Sudrajat telah dibawa oleh tim KDM untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Harapannya satu: kehidupan Sudrajat dan keluarganya bisa benar-benar berubah, bukan sekadar perbaikan sementara, melainkan rombak total menuju hidup yang lebih layak.
