Pabrik Baja Jepang Tutup di Indonesia, Krakatau Osaka Steel Hentikan Operasi karena Krisis Keuangan

2 Min Read
pabrik baja, industri baja, Osaka Steel, Krakatau Osaka Steel, KOS Cilegon, pabrik tutup, krisis keuangan, baja Jepang, investasi asing, industri manufaktur, Krakatau Steel, ekonomi Indonesia, PHK karyawan, industri nasional, pasar global, berita ekonomi, Cilegon Banten, sektor industri, perusahaan Jepang, baja nasional

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Perusahaan baja asal Jepang, Osaka Steel Co, Ltd, resmi menghentikan operasional anak usahanya di Indonesia, PT Krakatau Osaka Steel (KOS). Penutupan pabrik yang berlokasi di Cilegon, Banten, ini menandai berakhirnya kerja sama industri baja yang telah berjalan hampir satu dekade.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (4/2/2026). Ia menyebut, pemerintah telah menerima laporan resmi terkait keputusan penutupan tersebut.

“Perusahaan induknya di Jepang mengalami tekanan keuangan yang cukup berat. Mereka menilai sudah tidak mampu bersaing di tengah ketatnya industri baja global,” ujar Faisol.

Menurutnya, kondisi finansial yang memburuk membuat manajemen pusat Osaka Steel memutuskan untuk menarik diri dari pasar Indonesia. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan biaya produksi yang tinggi serta persaingan dengan produsen baja lain.

PT Krakatau Osaka Steel sendiri merupakan perusahaan patungan antara Osaka Steel Jepang dan PT Krakatau Steel (Persero). Didirikan pada 2014, perusahaan ini menguasai lahan seluas 21,6 hektare di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, dengan kepemilikan saham 80 persen Osaka Steel dan 20 persen Krakatau Steel.

Pabrik tersebut mulai beroperasi secara komersial pada Januari 2017, dengan total investasi mencapai US$ 220 juta atau sekitar Rp 2,8 triliun. Saat itu, kehadiran KOS diharapkan dapat memperkuat industri baja nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tekanan pasar global, fluktuasi harga bahan baku, serta persaingan produk impor dinilai semakin mempersempit ruang gerak perusahaan. Hal ini akhirnya berdampak pada keberlangsungan usaha dan stabilitas keuangan KOS.

Menanggapi penutupan ini, Faisol berharap tidak terjadi pemutusan hubungan kerja secara massal. “Pemerintah akan berupaya mengawal hak hak pekerja dan mencari solusi agar industri baja nasional tetap kuat,” tegasnya. Ia juga menilai peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi industri dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing.

Share This Article