JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Di saat langit Timur Tengah dipenuhi dentuman rudal dan sirene pertahanan udara meraung tanpa henti, satu negara justru berdiri relatif tenang. Ketika Iran menghantam negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat, Oman menjadi pengecualian.
Dikutip dari Kompas.com, Minggu (1/3/2026), Iran melancarkan serangan terhadap sedikitnya 27 pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab. Serangan ini merupakan respons langsung atas gempuran besar-besaran AS dan Israel ke wilayah Iran.
Pemerintah Iran mengonfirmasi target berada di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Negara-negara tersebut diketahui menjadi lokasi fasilitas strategis dan pangkalan udara militer AS.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut operasi itu sebagai “serangan dahsyat” yang menyasar seluruh kepentingan militer AS dan Israel di kawasan. Dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera, IRGC menegaskan serangan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan.
“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh dikalahkan secara telak,” demikian pernyataan resmi mereka.
Pesannya jelas: Iran tidak lagi sekadar memberi peringatan, tetapi membuka babak konfrontasi terbuka.
Di Uni Emirat Arab, satu orang dilaporkan tewas di Abu Dhabi setelah rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara. Ledakan juga terdengar di Dubai, termasuk di kawasan Palm Jumeirah yang dikenal sebagai ikon wisata mewah. Otoritas setempat melaporkan sejumlah korban luka akibat insiden tersebut.
Di Bahrain, markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS di Manama menjadi sasaran. Pemerintah Bahrain mengecam keras serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Rekaman yang beredar memperlihatkan drone tempur menghantam bangunan di sekitar fasilitas militer.
Negara-negara Teluk kini berada dalam posisi genting. Di satu sisi mereka adalah mitra strategis Washington, di sisi lain mereka berada dalam jangkauan langsung rudal Teheran. Setiap pangkalan yang menampung pasukan AS berubah menjadi magnet serangan.
Namun di tengah eskalasi tersebut, Oman tidak dilaporkan menjadi target.
Mengapa Oman aman?
Selama bertahun-tahun, Oman dikenal memainkan peran sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat. Negara ini kerap menjadi jalur komunikasi senyap dalam berbagai negosiasi sensitif, termasuk isu nuklir dan pertukaran tahanan. Posisi diplomatik inilah yang diyakini membuat Teheran tidak memasukkan Oman dalam daftar sasaran.
Keputusan Iran untuk tidak menyerang Oman memperlihatkan bahwa bahkan dalam perang, kalkulasi politik tetap berjalan. Ada pesan yang ingin disampaikan: siapa yang dianggap bagian dari konflik, dan siapa yang masih diposisikan sebagai jembatan dialog.
Situasi di Timur Tengah kini berada di titik paling panas dalam beberapa tahun terakhir. Serangan balasan, ancaman terbuka, dan pernyataan keras dari berbagai pihak memperbesar risiko konflik meluas.
Dan di antara negara-negara Teluk yang dibombardir, hanya satu yang untuk sementara lolos dari hantaman. Oman, negara kecil di tepi Teluk, justru menjadi simbol betapa diplomasi masih memiliki ruang, meski di tengah kobaran rudal dan bara perang.
Penulis: Adi
