.
JAKARTA,NOLESKAR.COM– Pola makan masyarakat kini lebih mengutamakan rasa dibandingkan gizi. Makanan manis, gorengan, dan minuman bersoda mudah ditemui setiap hari. Praktis dan murah, tetapi jika dikonsumsi berlebihan, kebiasaan ini menjauh dari pola makan seimbang.
Menjelang momentum Hari Gizi Nasional, pemerintah mengingatkan pentingnya memilih makanan secara bijak dan mengatur porsinya. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa makanan enak tidak dilarang, namun perlu dibatasi agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
“Apa yang kita makan memengaruhi metabolisme tubuh. Kita sering menikmati makanan enak, manis, gorengan, bersoda,padahal jika berlebihan, itu tidak baik bagi kesehatan,” ujarnya Jakarta, Selasa. 20 Januari 2026.
Pesan itu disampaikan bertepatan dengan Pekan Gizi Nasional, menjelang Hari Gizi Nasional 25 Januari. Bagi Dadan, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat keras bahwa persoalan gizi masih menjadi pekerjaan rumah besar Indonesia.
Nikmat di Lidah, Berat di Dampak
Dadan menegaskan, pemerintah tidak melarang masyarakat menikmati makanan favoritnya. Namun, masalah muncul ketika rasa menjadi satu-satunya pertimbangan, sementara nilai gizi dan porsi diabaikan.
“Bukan tidak boleh dimakan, tapi proporsinya yang harus dikurangi,” katanya.
Menurutnya, kebiasaan makan tanpa perhitungan gizi berdampak langsung pada kualitas hidup. Penyakit tidak menular meningkat, produktivitas menurun, dan pada akhirnya negara ikut menanggung biaya kesehatan yang kian besar.
“Kalau masyarakat hidup sehat, pengeluaran pemerintah untuk mengobati orang sakit bisa ditekan,” ujarnya.
Tubuh yang Tak Pernah Berhenti Bekerja
Kesadaran tentang gizi, lanjut Dadan, harus dimulai dari pemahaman paling dasar: tubuh manusia tidak pernah benar-benar diam. Bahkan tanpa aktivitas berat, tubuh tetap membutuhkan sekitar 1.200 kalori per hari hanya untuk fungsi dasar seperti bernapas dan metabolisme.
“Bernapas saja butuh energi. Apalagi kalau beraktivitas atau berolahraga,” tuturnya.
Kebutuhan itu menjadi lebih penting bagi anak-anak. Mereka tidak hanya bergerak dan bermain, tetapi juga sedang tumbuh. Sel-sel tubuh berkembang, otak dibentuk, dan masa depan dipertaruhkan.
Stunting, Luka yang Sulit Disembuhkan
Di titik inilah, Dadan menyoroti peran krusial orang tua. Ia mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar soal tinggi badan, melainkan masalah jangka panjang yang memengaruhi kecerdasan dan daya saing generasi mendatang.
“Kalau anak sudah stunting, sulit untuk menyembuhkannya. Karena itu, pemenuhan gizi seimbang sejak dini menjadi kunci,” katanya.
Gizi sebagai Budaya, Bukan Sekadar Program
Dadan menegaskan bahwa perhatian terhadap gizi tidak boleh berhenti pada program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, gizi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh keluarga Indonesia.
“Semua komponen keluarga perlu memperhatikan gizi, bukan hanya kelompok yang diintervensi program,” ujarnya.
Di ujung pesannya, Dadan seolah mengajak masyarakat menengok kembali isi piring masing-masing. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya dibangun dari gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi juga dari apa yang setiap hari masuk ke dalam tubuh.
Editor: Sultoni
